SUDAH BENARKAH POSISI ANDA PADA SAAT SHALAT BERJAMA’AH?


Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang dalam shalat berjama’ah, salah satu diantaranya dalah dalam menempatkan diri di dalam shaf. Berikut ini adalah contoh susunan shaf yang benar:

Sedangkan berikut ini adalah contoh susunan shaf yang salah (menyalahi sunnah):

  • Pada gambar [f] terlihat jarak yang jauh antara imam dan makmum pada shalat berjama’ah dua orang. Adalah sunnah jika imamdan makmum saling berdiri rapat dan sejajar, seperti terlihat pada gambar [a]. makmum tidak dibenarkan menempati posisi di sebelah kiri imam.
  • Pada gambar [g] betapa tidak rapatnya antara makmum dengan makmum.
  • Pada gambar [h] terlihat betapa rapuhnya shaf, dimana deretan shaf kedua banyak meninggalkan ruang kosong di tengahnya.
  • Rasulullah melarang kita shalat memisahkan diri dibelakang shaf terakhir seperti pada gambar [i], baik di tengah shaf naupun dipinggirnya. Pada posisi inisholatnya adalah tidak sah, sehingga yang bersangkutan harus mengulang lagi sholatnya!

Hal ini berdasarkan dalil:

“Dari Wabishah bin Mi’bad, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihat seseorang shalat di belakang shaf denga sendiri, maka beliau perintahkan dia mengulang shalatnya itu.” HR. Ahmad, Fiqqus Sunnah I:206, Abu Daud : 628 dan Tirmidzi : 231

Ath-Thabrani menambahkan:

“Mengapa engkau tidak masuk bersama mereka atau engkau tarik salah seorang (untuk shalatbersama)?” Bulughul Maram : 231

  • Pada [j] makmum belakang membentuk shaf tidak dari tengah, melainkan dari sisi kanan. Perhatikanlah gambar [d] atau [e] untuk shaf yang benar.

Shaf tidak harus seimbang, tetapi yang terpenting adalah:

  1. Penuhi dan rapatkan dulu shaf-shaf depan sebelum membentuk shaf baru.
  2. Setelah shaf depan penuh, maka bentuklah shaf baru mulai dari tengah sedikitnya oleh dua orang.
  3. Jangan shalat sendirian dibelakang shaf seperti pada gambar [i].

Beberapa dalil dan rujukan lainnya:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kalian (3 kali). Demi Allah, kalian harus benar-benar meluruskan shaf atau (kalau tidak) Allah benar-benar akan memperselisihkan hati kalian”. [Abu Dawud (662), Ibnu Hibban (396), Ahmad (4/276) dan Ad-Daulaabi di dalam Al-Kuna II/86 dari an-Nu’man bin Basyir, Silsilah al-Hadits ash-Shahihah I/71 no.32.]

Anas bin Malik radiyalohu anhu berkata : “Dan seorang dari kami biasa menempelkan pundaknya dengan pundak temannya, telapak kakinya dengan telapak kaki temannya”.  [H.R. Bukhori no 275]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:

“Apabila makmum seorang diri, maka dianjurkan agar posisinya di sebelah kanan imam sejajar dengannya. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan pendapat yang berbeda dengan yang diatas itu” . [Fatwa-fatwa Syaikh bin Baz mengenai Shalat, diterjemahkan oleh Abu Barzani, Pustakla Al-Kautsar, JakartaJuni 2000 halaman 85]

“Adapun jika seorang diri, maka ia harus berada si sebelahj kanan imam, baik laki-laki (dewasa) maupun anak kecil. Karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah shalat malam bersama Ibnu Abbas. Ketika itu Ibnu Abbas berada di sebelah kiri beliau, lalu diputar dengan meletakkannya di sebelah kanan beliau. Begitu pula Anas, tatkala shalat sunnat bersama Nabi, ia diletakkan di sebelah kanan beliau”. [ibid, halaman 79]

“Hukum shalat dibelakang shaf sendirian adalah batal (tyidak sah). Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Tidak (sah) shalat sendiri di belakang shaf”. Selain itu Nabi juga pernah menyuruh orang yang shalat dibelakang shaf sendirian, agar mengulangi shalatnya. Ketika itu beliau tidak bertanya kepada orang tadi, apakahia mendapatkan tempat kosong (pada shaf) itu atau tidak. Dengan demikian hal itumenunjukkan, bahwa tidak ada perbedaan orang yang mendapatkan tempat kosong dengan yang tidak. Hal itu demi membendung agar orang tidak sembrono melakukan shalat di belakang shaf sendirian. Adapun orang yang datang ke mesjid dan ketika itu imam sedang shalat, padahal ia tidak mendapatkan tenmpat kosong di dalam shaf, maka ia harus menunggu sampai mendapatkan orang yang bersahaf bersama dirinya sekalipun anak kecil yang usianya baru tujuh tahun atau lebih”. [ibid, halaman 71]

“Sebaliknya shaf itu dimulai dari tengah, yaitu di belakang imam. Namun kita berada di sebelah kanan setiap shaf itu lebih baik dari pada di sebelah kiri. Yang jelas, kita tidak boleh membentuk shaf lagi sebelum shaf di depannya penuh. Tidak mengapa makmum di sebelah kanan shaf lebih banyak. Dan, kita tidak perlu menyeimbangkan shaf bagian kanan dan kiri. Justru kseimbangan semacam itu menyalahi sunnah. Yang pasti kita tidak boleh membentuk shaf baru sebelum shaf pertama penuh. Kita tidak boleh membentuk shaf ketiga sebelum shaf kedua penuh. Demikian seterusnya, karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memrintahkan yang demikian itu kepada kita”. [ibid, halaman 70]

20 thoughts on “SUDAH BENARKAH POSISI ANDA PADA SAAT SHALAT BERJAMA’AH?

  1. Ass. Wr.Wb Ustadz Ahmad S …..
    Saya sangat tertarik dengan ulasan ustadz mengenai shalat(posisi shalat berjamaah), dan kalau boleh saya tanya nich…..
    Siapakah yang mulia Syaikh abdul aziz bin baz itu, dimana saya dapat mengetahui tentang beliau……kok fatwa beliau banyak dipakai dlm pembahasan ustadz….
    ………terima kasih……..

    Wass.Wr.Wb.
    SERAKAH

    • Wa’alaikum salam Wr.Wb….
      kiranya terlalu berlebihan saya dipanggil ustadz hehe..
      saya hanya manusia biasa yang ingin share aja dengan apa yang saya dapat, mengenai artikel ini saya dapat dari seorang teman yang saya coba posting.
      Adapun mengenai Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz saudara bisa googling, banyak ko yang membahas tentang beliau..
      dan sumber fatwa-fatwa beliau di artikel ini bersumber dari [Fatwa-fatwa Syaikh bin Baz mengenai Shalat, diterjemahkan oleh Abu Barzani, Pustakla Al-Kautsar, Jakarta Juni 2000 halaman 85].

      terimakasih atas kunjungannya….🙂

      Yang bawah saya mungkin bisa kasih info lengkap buat saudara kita..🙂

  2. Ass. Wr.Wb Ustadz Ahmad S …..

    saya pernah membaca ulasan bahwa memulai shaf baru setelah shaf pertama penuh adalah dari kanan, bukan dimulai dari tengah. Mana yg benar?

    ref: subhan-nurdin.blogspot.com

    • Wa’alaikum salam Wr. Wb. waduh..jangan panggil ustadz dong… kang aji, akang aja ya.. hehe..
      alhamduluillah, saya dapat pencerahan baru lagi dari ref yang kang aji ajukan, untuk posisi apakah dari tengah dulu atau dari kanan dulu, terus terang saya juga harus tanya-tanya lagi pada ahlinya karena minimnya keilmuan saya, saya baru dapat ilmu yang saya share ini.. dan alhamdulillah sekarang dapat pencerahan lagi.

      Terima kasih kang atas kunjungan dan sharingnya.. Allohu yubarik fiik…

      mungkin bawah saya ada yang bisa share lagi, demi kekhusuan dan keabsahan shalat kita…..

  3. Jika makmum 1 orang dan ada makmum baru apakah makmum pertama mundur kebelakang mengkuti shaf b. Jika bermakmum pada orang yang shalat sendiri apakah disunnahkan menepuk bahu atau bagaimana sunnah yang benar?

    Jazakallah

  4. mas, coba cek lagi dari buku2 yang lain. kalau hanya ada satu imam dan satu makmum bukan lurus dalam satu garis, tapi si makmum sedikit kebelakang atau si imam sedikit maju ke depan untuk membedakan antara imam dan makmum. masalah harus rapat kaki dan bahu, ada yang kurang mas, lutut. karena kalau hadits ini digolongkan perintah yang menjadi syarat sah shalat (berjamaah), maka cuma merapatkan kaki dan bahu gak sempurna atau sah juga. duduk tashahud akhir yang jelas2 rukun shalat kalau tumpuk menumpuk, karena ingin begitu rapatnya, menjadi terganggu. maka dalam hal ini tepatnya lurus dan rapat. bukan lurus dan berdesakkan, atau pula berdiri mekangkang. lagian contohnya gak adil banget sih gambarnya. orang islam di Indonesia itu ngerti kok mas, bahwa shalat terpenting adalah khusu’nya. trims. salam.
    oia, ulama mazdhab itu ngambil kesimpulan dari qur’an dan hadits Nabi. kenapa sekarang ngambil dari bin baz? katanya “saya ikut Nabi, bukan mazdhab”, tapi kenapa yang dirujuk bin baz? mohon mas berkenan untuk mencari jawaban atas hal2 ini kepada yang punya ilmunya. mas bisa ke kyai2 atau ulama. salam.

  5. Terima kasih atas pencerahan ustads,saya sependapat bahwa memulai mengatur shaf sebaiknya dari tengah dari shaf pertama dan seterusnya,namun saya mengalami bahwa pada saat sholat tarawih berjemaah dimasjid ada beberapa orang makmum mengambil posisi sebelah kanan masjid,sedangkan saya dan beberapa makmum mengambil posisi tengah,sehingga shaf menjadi terputus.Dalam kaitan ini, selesai sholat tarawih menjelang sholat witir, imam masjid berdiri dan dengan suara lantang menegaskan bahwa posisi yang benar adalah makmum yang berada disebelah kanan masjid dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,karena seluruh mazhab sependapat.Dalam kondisi demikian pada saat sholat witir,saya dan beberapa orang mukmum yang berada ditengah berinisiatif pindah ke shaf pertama ujung kiri yang kosong karena ditinggal oleh makmum.sehubungan dengan permasalahan diatas bagaimana sebaiknya saya bersikap seandainya pada waktu melaksanakan sholat berjemaah dilain kesempatan di masjid yang sama,,ternyata shaf pertama terisi penuh dan tidak mungkin disisipi lagi,sedangkan shaf kedua tidak terisi penuh,namum para makmum mengambil posisi kanan,apa yang sebaiknya saya lakukan,terima kasih

  6. Ass wr wb akang,. by the way nih artikelnya lumayan sip dech, laen x ulsannya lbh rnci gi y,he he he.
    Klo boleh Sya ign btnya ni, misalnya suami istri hanya bdua it gmna posisi shlt bjma’ahnya? Thanks y tuk artikelny yg dah mw d post kn

    • Hadits dari Anas dalam ash-Shohihain (Shohih al-Bukhori & Muslim, pent), ia berkata:
      “Aku dan seorang anak kecil sholat bersama Rosululloh shollallohu alaihi wa ala aalihi sallam, dan orang tua di belakang kami” [1]
      Maka inilah sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Dan orang tua tersebut adalah Ummu Sulaim, ibunya Anas.

      [1] HR. al-Bukhori (380) dan Muslim (658 dan 660) dari Anas rodhiyallohu anhu.

      Berdasarkan hadits tersebut, posisi istri jika berjamaah berdua bersama suami berada di belakang suami. walloohu a’lam bish showwab.

  7. Ass. Wr.Wb Ustadz Ahmad S
    saya mau tanya… saya adalah pengantin baru.. dan yang saya mau tanya kan kepada pak ustadz, bagaimana kah posisi istri (makmum hanya perempuan) saat shalat berjama’ah dengan saya…
    apakah sama hal nya dengan kaum laki-laki di sebelah kanan atau kan di belakang sejajar dengan saya (imam) ?
    kurang lebih nya saya minta maaf dan terima kasih.
    Wass.Wr.Wb

    • Wa’alaikumsalaam warohmatulloh..

      Hadits dari Anas dalam ash-Shohihain (Shohih al-Bukhori & Muslim, pent), ia berkata:
      “Aku dan seorang anak kecil sholat bersama Rosululloh shollallohu alaihi wa ala aalihi sallam, dan orang tua di belakang kami” [1]
      Maka inilah sunnah Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Dan orang tua tersebut adalah Ummu Sulaim, ibunya Anas.

      [1] HR. al-Bukhori (380) dan Muslim (658 dan 660) dari Anas rodhiyallohu anhu.

      Berdasarkan hadits tersebut, posisi istri jika berjamaah berdua bersama suami berada di belakang suami. walloohu a’lam bish showwab.
      mudah2an dari teman2 bloger yang lain ada ilmu yang lebih…

  8. assalamu’alaikum, kang ustadz, makasih atas infonya, supaya lebih mantap haditsnya bisa ditulis arabnya ga? kalau artinya saja sprti mengarang indah..

  9. Ath-Thabrani menambahkan:
    “Mengapa engkau tidak masuk bersama mereka atau engkau tarik salah seorang (untuk shalatbersama)?” Bulughul Maram : 231

    Sedangkan Bulughul Maram Nomor: 231
    Abu Murtsad Al-Ghonawy berkata: Aku mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah engkau sholat menghadap kuburan dan jangan pula engkau duduk di atasnya.”
    ————–
    Menarik Orang Lain di Shof Depannya Untuk Membuat Shof Baru
    Hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini bukan termasuk hadits yang yang shohih, maka perbuatan ini tidak boleh dilakukan bahkan dia wajib bergabung dengan shof yang ada jika memungkinkan. Jika tidak maka boleh dia sholat sendiri di shof yang baru, dan sholatnya dianggap sah karena Alloh tidaklah membebani seorang kecuali sesuai kemampuannya (Lihat Silsilah Al Hadits Ash Shohihah wal Maudu’at). Wallohu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s